Lebih dari sekedar lokasi wisata yang menjanjikan suasana hutan alami.
Tangkahan merupakan lokasi ekowisata yang terletak di Kabupaten tingkat II Langkat Kecamatan Batang Serangan. Medan yang minim dengan ekowisata, menjadikan Tangkahan salah satu tempat wisata ideal yang menyegarkan mata bagi keluarga. Dengan jarak 180 km dari Medan, dibutuhkan waktu tempuh kurang lebih tiga sampai empat jam dengan mengendarai mobil atau sepeda motor.
Selain menggunakan kendaraan pribadi, tersedia juga bus penumpang. Bus yang dimaksud bernama Pembangunan Semesta. Bus ini stand by masing-masing satu dari Medan dan satu dari Tangkahan dan beroperasi sebanyak dua trip dalam sehari dengan ongkos sekitar Rp. 25.000,- untuk pulang dan pergi.
Diapit oleh Desa Namo Sialang dan Desa Sei Serdang, secara geografis Tangkahan berada di 030 41 menit 01 detik LU, dan 980 4 Menit, 28,2 detik BT. Menawarkan pemandangan indah dan udara segar yang menyejukkan, Tangkahan menjadi satu ‘pelarian’ menyenangkan dari hiruk-pikuknya kota berpolusi.
Obyek wisata yang menjadi andalan di Tangkahan adalah air terjun, pemandian air panas, gua-gua dan hutan alami. Gajah yang biasa dipergunakan untuk berpatroli kini juga bisa mengantarkan pengunjung berkeliling. Saat ini LPT sedang mengusahakan adanya orang utan untuk menjadi satu lagi andalan obyek wisata di Tangkahan.
Dialiri Sungai Batang Serangan dan Kuala Bulu, di samping memberikan keindahan alam untuk dinikmati, Tangkahan juga berpotensi sebagai tempat penelitian. Keuntungan-keuntungan ini didapatkan tidak lain karena alamnya yang asri dan hutannya yang masih alami.
Pengunjung yang datang ke Tangkahan, pada umumnya adalah masyarakat lokal ditambah wisatawan mancanegara. Biasanya mereka datang pada hari libur dan hari-hari besar nasional.
Menurut Rina, salah satu pengunjung ekowisata Tangkahan, pemandangan di Tangkahan sangat bagus. "Saya biasanya berkunjung pada hari-hari libur dan hari-hari besar,". Lain halnya dengan Deni, ia menikmati pemandangan untuk menghilangkan kejenuhan setelah beraktivitas di sekolah.
Tangkahan dikelilingi oleh tanah perkebunan milik PTPN, tanah milik masyarakat sekitar dan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Masyarakat Tangkahan yang sadar akan potensi ekowisata ini membentuk Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT) pada tahun 2000. Ekowisata Tangkahan dikelola bersama oleh Kantor Pariwisata Kabupaten Langkat dengan tokoh masyarakat, para tetua, maupun pemuda yang ada di desa setempat. "Keamanan, ketertiban, kesejukan, kebersihan juga keindahanlah yang sangat diharapkan bagi semua pengunjung, masyarakat, pemerintah maupun turis yang datang ke Tangkahan," ujar H. Abdul Azis yang menjabat Kepala Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Langkat.
Kantor Kebudayaan dan Pariwisata telah mengusulkan kepada Bappeda agar menata pembangunan di Tangkahan. Jalan yang berlubang telah diusulkan agar cepat diperbaiki. Hal ini memperhitungkan kenyamanan pengunjung yang datang di samping membantu pemasukan bagi pemerintah maupun masyarakat yang berjualan disana.
Program yang direncanakan oleh Kantor Budaya dan Pariwisata Kabupaten Langkat adalah menyusun konsep tata ruang yang baik dan terkonsep. Acuan ini dibuat mengingat bencana yang telah menimpa salah satu tempat wisata di Bahorok yaitu Bukit Lawang.
Bencana banjir bandang yang terjadi di Bukit Lawang beberapa waktu silam diyakini terjadi akibat konsep tata ruang yang amburadul. "Contoh nyatanya adalah gubuk-gubuk yang biasa digunakan sebagai tempat bersantai sangat dekat dengan aliran sungai di sana" ujar H. Abdul Azis.
"Konsep tata ruang yang diatur dengan baik akan mendatangkan keamanan bagi pengunjung, karena pembangunannya sudah terkonsep," H. Abdul Azis yang pernah menjabat Camat di Bahorok periode 1992-1997 ini mengatakan, "konsep tata ruang yang baik, akan mengundang para investor,".
Pihak pemelihara Tangkahan berharap akan terjalinnya hubungan baik dengan pengunjung dengan menjaga keamanan obyek wisata dan kenyamanan pengunjung. Di samping itu, kelestarian dan kebersihan Tangkahan harus terjaga secara kontinyu. Untuk itulah dibentuk satu tim kemanan, yaitu Ranger dari Departemen Keamanan setempat di bawah naungan LPT. Di samping itu, LPT dan masyarakat sekitar bekerja sama dalam menjaga kebersihan Tangkahan.
Kini LPT telah membuat jalan potong yang menghubungkan jalan dari Bukit Lawang menuju Tangkahan. Jalan potong yang dimaksud akan melalui jalur dari PT. Andalas yang ada di sana. Di antara jalan potong Bukit Lawang tersebut disediakan posko-posko yang berfungsi sebagai pusat informasi wisata. Di Bukit Lawang sendiri terdapat obyek-obyek wisata yaitu Sungai Gelugur, air panas, gua-gua dan Gunung Behem.
Untuk menjaga kelestarian hutan, LPT bekerjasama dengan pihak TNGL, Pemerintah Kabupaten Langkat, masyarakat sekitar dan diketuai oleh Kepala Balai Taman Gunung Leuser disaksikan oleh pemerintah Kabupaten Langkat yang diatur dalam MOU (Memorandum Of Understanding). Pembangunan maupun pelestarian ekowisata Tangkahan tidak hanya menjadi tanggungjawab Kantor Kebudayaan dan Pariwisata melainkan semua dinas yang terkait di dalamnya. Di antaranya, lingkungan hidup, kesehatan, bahkan pamong praja dalam menertibkan keamanan.
Penjagaan kelestarian hutan ekowisata Tangkahan yang pada umumnya dikelola oleh masyarakat setempat pada tahun 2004 membuahkan Penghargaan Nasional Inovasi Pariwisata oleh Dinas Pariwisata Kantor Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Langkat.